![]() |
| Ibnu Saba yang sebenarnya, zionis homo Lawrence of Arabia, bersama antek-anteknya keluarga Saud dan kaum wahabiah. |
Seorang pendiri suatu aliran agama pasti namanya selalu
dipuja-puji oleh para pengikutnya. Ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak
mungkin bisa dibantah. Namun keniscayaan ini dilanggar oleh para pembenci
aliran Syiah dengan memaksakan pendapat bahwa aliran tersebut didirikan oleh
Ibnu Saba, tokoh fiktif yang namanya tidak pernah disebutkan dalam kitab-kitab
awal Islam seperti kitab-kitab hadits "Shahih", "Musnad"
maupun "Sunan". Nama itu bahkan tidak pernah disebut dalam
kitab-kitab awal sejarah Islam seperti "Tarikh"-nya Ibnu Ishak.
Adalah hal yang sangat-sangat aneh seseorang yang dianggap telah menciptakan
salah satu mazhab Islam terbesar dan pengaruhnya masih terasa sampai sekarang,
tidak disebut namanya dalam kitab-kitab awal Islam tersebut di atas. Padahal
menurut mereka yang percaya keberadaan Ibnu Saba, yang bersangkutan melakukan
aktifitas provokasi dan konspirasinya pada jaman khalifah ketiga Usman bin
Affan, sementara kitab-kitab tersebut di atas ditulis jauh setelahnya.
Umat Shiah telah membantah tuduhan tersebut dan menganggap
Ibnu Saba sebagai tokoh fiktif yang tidak pernah ada. Namun tuduhan itu tidak
pernah berhenti dilancarkan kepada mereka.
Seandainya Anda seorang pengikut Kristen dan kemudian
seseorang menuduh agama tersebut didirikan oleh Hitler, tentu Anda akan marah.
Namun orang itu terus saja melontarkan tuduhan bahwa agama Kristen didirikan
oleh Hitler meski telah berulangkali Anda bantah, diantaranya dengan
menyebutkan bahwa sebagian besar orang kristen membenci Hitler. Tentu Anda akan
menganggap penuduh tersebut sebagai "orang gila".
Demikian juga sebenarnya orang-orang yang menuduh Syiah
didirikan oleh Ibnu Saba adalah "orang gila" karena terus saja
melontarkan tuduhan tersebut meski telah diberi penjelasan
segamblang-gamblangnya bahwa orang Syiah tidak pernah menganggap Ibnu Saba
sebagai manusia yang benar-benar ada. Bekas-bekas keberadaannya pun tidak
pernah ditemukan, termasuk silsilah keluarganya.
Yang tidak kalah menggelikan adalah anggapan bahwa Ibnu Saba
berhasil mengelabuhi sebagian besar sahabat nabi untuk mendukung Ali bin Thalib
dan memberontak terhadap khalifah Usman bin Affan. Bagaimana mungkin seorang
yahudi mu'alaf (kalau memang benar adanya) mengelabui para sahabat Rosul yang
tentunya jauh lebih mengerti tentang Al Qur'an dan Sunnah Rosul. Padahal para
sahabat sangat hati-hati dalam bergaul dengan orang-orang yahudi meski mereka
telah masuk Islam. Dalam hal ini bahkan bisa dikatakan para sahabat bersikap
agak rasialistis terhadap orang-orang yahudi, berdasarkan ayat-ayat Al Qur'an
yang memerintahkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap "kelicikan"
mereka.
Ada satu kisah cukup terkenal tentang sahabat Rosul utama
Abu Dzar al Ghifari dan khalifah Usman bin Affan tentang perdebatan mereka soal
penafsiran surat At Taubah ayat 34: "Dan mereka yang menyimpan emas dan
perak serta tidak menafkannya di jalan Allah, maka sampaikanlah kepada mereka
kabar tentang siksaan Allah yang sangat pedih."
Abu Dzar mengkritik Usman yang dianggap telah menumpuk harta
kekayaan untuk diri sendiri dan kerabatnya dan tidak menggunakannya untuk
kepentingan umat. Usman didampingi Ka'ab, seorang sahabat dari kaum yahudi,
berdalih bahwa ayat tersebut dimaksudkan bukan untuk umat Islam melainkan
kepada kaum ahlul kitab (yahudi dan nasrani). Sebaliknya Abu Dzar bersikukuh
bahwa ayat tersebut untuk umat Islam, termasuk Usman bin Affan. Kemudian saat
Ka'ab menjelaskan pendapatnya Abu Dzar marah. "Siapa kamu berani
mengajarkan kami tentang Al Qur'an!" hardik Abu Dzar kepada Ka'ab. Tidak
hanya itu, Abu Dzar bahkan mengayunkan tongkatnya ke kepala Ka'ab hingga
berdarah.
Berikut ini adalah tulisan yang dikutip dari situs Jurnal
Syiah tgl 31 Juli 2010.
Para pembenci Syiah, yang para pelopornya adalah para
pembenci ahlul bayt keluarga Rosulullah menuduh bahwa Syi’ah tercipta dari
kreasi seorang Yahudi yang memiliki dendam kusumat terhadap Islam, orang
tersebut kemudian memeluk Islam guna menghancurkan Islam dari dalam. Orang
Yahudi tersebut bernama Abdullah bin Saba’ (Ibnu Saba). Penyebutan Abdullah bin
Saba’ sebagai orang Yahudi sebetulnya tidak tepat, sebab namanya dan nama ayahnya
jelas menunjukan nama Arab bukan nama-nama Yahudi. Nasab Abdullah bin Saba’
tidak diketahui dan masa lalunya pun gelap pula.
Cerita Abdulah bin Saba’ ini lebih tepat di sebut dongeng
ketimbang cerita kenyataan. Ada beberapa sebab yang menjadi alasan bahwa kisah
Abdulah bin saba’ ini disebut sebagai ”mitos”, yang secara sengaja diciptakan
untuk melakukan pembunuhan karakter dan pendiskriditan terhadap para pengikut
Imam Ali dan Ahlul Ba’it Rasulullah Beberapa. alasan akan menjadi obyek kajian
tulisan ini.
Kejanggalan dari cerita Abdullah bin Saba’ ini setidaknya
dapat dilihat dari tiga hal: Pertama bagi manusia yang berakal sehat tanpa
dikotori kepicikan berfikir, tak mungkin menganggapnya kisah Abdullah bin Saba’
dapat dipercaya, bagaimana mungkin seorang Yahudi yang baru masuk Islam
memiliki keterampilan politik yang luar biasa dan dengan kemampuanya
mempengaruhi pribadi-pribadi kaum muslim yang mulia seperti Abu Dzar al
Ghifari, Muhammad bin Abu Bakar (putra khalifah pertama Abu Bakar dan adik
kandung Ummul Mukminin Aisyah), Ammar bin Yasir (salah satu sahabat yang telah
dijanjikan surga oleh Rosulullah), Sha’sha’ah bin Shauhan, Muhammad bin Abu
Hudzaifah, Abdurahman bin Udais, Malik Asytar, untuk melakukan agitasi dan
propaganda pemberontakan pada khalifah Usman bin Affan dan para sahabat yang
mulia ini mengekor begitu saja. Kedua adalah hal yang mustahil orang yang baru
saja masuk Islam, apalagi dari kalangan Yahudi, kemudian menjalankan dan
mengorganisasikan pemberontakan tanpa para sahabat bertindak keras mencegahnya.
Ketiga adalah hal yang aneh Seorang yahudi yang baru masuk Islam bisa memulai
menghancurkan agama islam tanpa seorang muslim pun peduli.
Dari mana sumber cerita Abdullah bin Saba’?
Seorang sarjana muslim bernama As Sayyid Murthadha al Askari,
telah melakukan penelitian terhadap kisah Abdullah bin Saba dan hasil
penelitiannya dibukukan dengan judul "Abdullah bin Saba’ wa Asathir Ukhra
(Abdullah bin Saba’ dan Dongeng-Dongeng Lain)" serta buku yang diberi
judul ”Khamsun wa Mi’ah Shahabi Mukhthalaq” (Seratus Lima Puluh Sahabat
Fiktif). Menurut al Askari, sumber utama terciptanya kisah Abdullah bin Saba’
adalah seseorang yang bernama Sayf Ibn Umar at Tamimi (meninggal 170 H). Say
ibn Umar at Tamimi telah menciptakan tokoh fiktif bernama Abdullah bin Saba’
dalam bukunya "Al Jamal wa mashiri Ali wa Aisyah" dan "Al Futuh
al Kabir wa ar Riddah". Dari buku tersebut lalu menyebarlah cerita tentang
Abdullah bin Saba’ ke penulis-penulis Islam sesudahnya. Penyebaran kisah
Abdullah bin Saba’ sedemikian massif, sehingga buku-buku sejarah Islam banyak
yang diwarnai oleh cerita palsu tentang Abdullah bin Saba itu.
Bagaimana Dongeng Abdullah bin Saba’ dapat beredar luas?
Peredaran dongeng Abdullah bin Saba’ tersebar melalui
penulis sejarah seperti Thabari (wafat 310 H), Ibn ’Asakir (wafat 571 H), Ibn
Abi Bakr (wafat 741 H) dan adz Dzahabi (wafat 748). Dari merekalah kemudian
dongeng Abdullah bin Saba’ tersebar ke generasi-generasi sesudahnya. Kecuali
Thabari yang mengambil cerita Ibnu Saba dari Syaif Ibn Umar at Tamimi, penulis
lainnya mengutip dari Thabari. Mereka semuanya hidup jauh setelah para penulis
kitab-kitab awal "Shahih", "Musnad", "Sunan" dan
"Tarikh".
Para penulis sejarah kontemporer pada akhirnya banyak yang
mengutip cerita-cerita Abdullah bin Saba’ melalui penulis di atas, sekedar
menyebutkan sebagian buku yang terkenal yang menuliskan Abdullah bin Saba’ dan
syiah diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Muhammad Rasyid Ridha, dalam bukuya As Sunnah wa Asy
Syi’ah, ia mengatakan: ”Tasyayyu terhadap khalifah ke empat Ali bin Abi Thalib
adalah pangkal perpecahan umat Muhammad dalam agama dan politik mereka.
Pencetus dasar-dasarnya adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, ia
menganjurkan kepada yang berlebih-lebihan (ghuluw) tehadap Ali dengan tujuan
memecah belah umat ini serta merusak agama dan urusan dunia”. Rasyid Ridha
mengambil rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari Ath Thabari.
2. Ahmad Amin dalam buku "Fajar Islam dan Dhuha
Islam" menuliskan: ”Akidah Syi’ah tentang wasiat dan Raja’ah diambil dari
Ibnu Saba’ adapun konsep Mahdi al Muntazhar diambil dari ajaran Yahudi melalui
Ibnu Saba’. Abu Dzar al Ghifari mengambil pemikiran tentang sosialisme dari
Ibnu Saba’, dan Ibnu saba’ mengambilnya dari ajaran Mazdakiyah yang tersebar di
masa kekuasaan bani Umayyah. Dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa
Syiah adalah benteng bagi semua orang yang ingin menghancurkan agama Islam”.
Tetapi kemudian Ahmad Amin meralat pendapatnya setelah ia bertemu dengan
Ayatullah Muhammad Husain Kasyif al Ghitha. Ia kemudian menyatakan permintaan
maaf kepada kaum Muslim Syiah. Ahmad Amin menyebutkan ia mengambil sumber
rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari Ath Thabari.
3. Dr Hasan Ibrahim Hasan dalam bukunya "Tarikh al
islam as Siyasi". Ia menuliskan dalam bukunya sebagai berikut: ” Abdullah
bin Saba mempengaruhi seorang sahabat besar ahli hadis Abu Dzar al Ghifari
untuk melakukan pemberontakan menentang Utsman dan Muawiyyah.” Ia menyebutkann
sumber cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
4. Syekh Abu Zuhrah dalam ”Tarikh al Madzahib al
islamiyah" menuliskan dalam bukunya: ”Abdullah bin Saba mengatakan bahwa
ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki wasi, dan Ali adalah wasi Muhammad.
Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali penutup para washi.” Ia mengutip
cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
5. Farid Wajdi dalam bukunya "Dairah Ma’arif al
Qarn’Isyrn” juga menulis cerita tentang Abdullah bin saba’ yang diambil dari
sumber yang sama yakni Ath Thabari.
6. Ahmad ’Athiyatullah dalam bukunya ”Al Qamus al islami”
menuliskan: “Ibnu Saba’ adalah pimpinan sekte as saba’iyah dari kalangan
Syi’ah. Ia dikenal dengan nama Ibnu as Sawda”. Ia pun mengambil sumber cerita
Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
Sedangkan kutipan-kutipan cerita Abdullah bin Saba’ yang
beredar di Indonesia dalam bentuk artikel di majalah ataupun buku-buku relatif
banyak, terutama buku-buku yang diterbitkan oleh kelompok-kelompok
"nawashib" yang membenci Ahlul Ba’it, seperti buku "Mengapa Kita
Menolak Syi’ah" yang diterbitkan oleh LPPI, "Tikaman Syi’ah",
"Gen Syi’ah" dan lain sebagainya. Dari sekian artikel kami hanya akan
menyebut dua saja, karena kedua artikel inilah yang akan di bahas dalam tulisan
ini, sekaligus meluruskan kisah Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam buku-buku
lain.
1. Artikel berjudul : "Abdullah Bin Saba’ Tokoh
Fiktif?” ditulis oleh Majalah al Muslimun – majalah Hukum dan Pengetahuan
Islam, Bangil No 217 Sya’ban/ Ramadhan 1408 April 1988.
2. Artikel berjudul : "Abdullah Bin Saba’ Bukan Tokoh
Fiktif" Karya Dr Sa’diy Hasyimi yang dimuat di Majalah Suara Masjid.
Telah kami sebutkan di atas secara singkat bahwa Abdullah
bin Saba’ adalah tokoh fiktif hasil rekayasa dari orang yang bernama Syaif Ibnu
Umar at Tamimi. ia meninggal pada masa khalifah Harun al Rasyid. Ia dikenal
sebagai orang yang membenci ahlul ba’it (nawashib). Seperti telah kami sebutkan
di atas, ia menulis dua buah buku yang di dalamnya terdapat tokoh yang bernama
Abdullah bin Saba’: "al Jamal wa mashiri Ali wa Aisyah" dan "Al
Futuh al Kabir wa ar Riddah". Murthadha Al Askari menyebutkan dalam
bukunya “Syaif at Tamimi telah memalsukan riwayat Nabi SAW dengan menciptakan
sahabat-sahabat yang tidak pernah ada dalam sejarah. Nama-nama tersebut adalah
nama fiktif yang tidak pernah ada orangnya” Murthada al Askari menyebutkan ada
150 sahabat fiktif karangan Tamimi, di antaranya bernama Sa’r, Al Hazhhaz, Uth,
Hamdhan dan lain sebagainya termasuk Abdullah bin Saba.
Kitab "Tarikh al Umm wa al Muluk" karya Ibnu Jarir
Ath Thabari adalah sumber tertua kisah Abdullah bin Saba’. Ath Thabari hanya
bersandar pada perawi tunggal, Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Sedangkan jalur yang
menyambungkannya kepada Syaif hanya dua yaitu :
1. Ubaidullah bin Sa’id az Zuhri dari pamanya yang bernama
Ya’qub bin Ibrahim dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Kisah Abdullah bin Saba’ ia
nukil dari jalur ini secara lisan.
2. As Surri (Abu Ubaidah) bin Yahya dari Syu’aib bin Ibrahim
dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Kisah Abdullah bin Saba’ ia nukil melalui kitab
"Al Futuh wa Ar riddah" dan kitab "al Jamal wa Masir
‘Aisyah" karya syaif ibnu Umar at Tamimi, dan terkadang ia mengutip secara
lisan.
As Surri bin Yahya yang dimaksud dalam jalur periwayatan di
atas bukanlah Ats Surri bin Yahya, seotang perawi yang terkenal tsiqah. Sebab
masa hidup Ats Surri bin Yahya yang tsiqah itu lebih awal dari ath Thabari. Ia
wafat tahun 167 H, sementara Ath Thabari baru lahir tahun 224 H. Selisih antara
wafat As Surri dan kelahiran ath Thabari adalah 57 tahun. Penelusuran para
ulama menyebutkan bahwa, tidak ada seorang perawi yang bernama As Surri bin
Yahya selain dia. Oleh karenanya, ada yang mengasumsikan bahwa as Surri yang
menjadi perantara periwayatan ath Thabari adalah salah satu dari dua perawi
yang keduanya adalah pembohong dan cacat di mata ulama :
1. As Surri bin Ismail al Hamdani al Kufi.
2. As Surri bin ’Ashim al Hamdani (seorang imigran yang
tinggal di kota Bghdad) wafat tahun 258 H dan ath Thabari hidup sezaman
denganya selama tiga puluh tahun lebih.
Mayoritas ulama ahlu Sunnah sendiri memandang kredibilitas
Syaif Ibnu Umar at Tamimi sebagai tidak bernilai. Diantara komentar para ulama
tentang at Tamimi adalah sebagi berikut"
1. Yahya bin Muin (wafat 233 H): "Riwayatnya lemah dan
tidak berguna, uang sesen lebih berharga daripada dirinya”.
2. Abu Daud (wafat 316 H): ”Syaif bukan seorang yang dapat
dipercaya. Ia adalah seorang pembohong (al Kadzdzab), ia tidak berarti
sedikitpun, beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak”.
3. Ibn Hibban (wafat 354 H): ”Sayf meriwayatkan hadis-hadis
palsu dan menisbahkan pada perawi–perawi yang sahih. Ia dianggap sebagai
seorang pembid’ah dan pembohong serta pemalsu hadits”.
4. Ibn Abd Barr (wafat 462 H): ”beliau menulis tentang al
Qa’qa, di mana Syaif berbohong”.
5. Al Daruquthni (wafat 385 H): ”Riwayat yang disampaikan
Syaif lemah”.
6. Firuzabadi (wafat 817 H) : ”Riwayat yang Syaif sampaikan
lemah”.
7. Ibn al Sakan (wafat 353 H): ”Riwayat syaif lemah”.
8. Ibn Adi (wafat 365 H): ”Ia lemah, sebagian hadisnya
mashut akan tetapi sebagian besar darinya tidak terdukung riwayat yang ia
sampaikan lemah dan tidak digunakan”.
9. Al Suyuthi (wafat 900 H): ”Hadis yang disampaikannya
lemah”.
10.Ibnu Hajar al Asqalani (wafat 852): ”Dalam hadis banyak
perawi lemah dan yang paling lemah di antara mereka adalah Sayf”.
11.Ibn Abi Hatam (wafat 327 H): ”Para ulama telah
mengabaikan riwayat yang disampaikan Syaif”.
12.Safi al Din (wafat 923 H): ”Riwayat yang disampaikan Sayf
dianggap lemah (dhaif)”.
13.Al Hakim (wafat 450 H): ”Sayf adalah seorang ahli bid’ah
riwayatnya diabaikan”.
14.Al Nas’i (wafat 303 H): ”Riwayat yang disampaikan Syaif
lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan karena tidak dapat dipercaya dan
tidak berdasar”.
15.Abu Hatam (277 H): ”Hadis yang diriwayatkan Sayf harus
ditolak”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cerita Abdullah bin
Saba’ adalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Syaif ibnu Umar at Tamimi.
Sebagaimana dinyatakan oleh Dr Ahmad al Wa’ili: ”Para peneliti menyebutkan
bahwa ath Thabari menukil 701 riwayat sejarah yang meliputi berbagai peristiwa
yang mewarnai masa kekhalifahan ketiga khalifah pertama. Kesemuanya ia nukil
dari jalur As Surri si pembohong, dari Syu’aib yang misterius keperibadianya
dan dari Syaif yang ditolak oleh para ulama”.
Selain pengujian melalui jalur periwayatan dan sumber
periwayatan yang telah kami sebutkan di atas, seorang sarjana Muslim bernama
S.H.M Jafri menggunakan metode lain untuk meneliti asal-usul Syi’ah. Beliau
menuliskan hasil penelitianya dalam buku berjudul "Origin and Early
Development Of Shi’a Islam". Pengujian yang ia gunakan adalah dengan
kajian historiografi dengan melakukan studi komparatif sejarah, yakni
membandingkan seluruh penulis sejarah Islam dari generasi paling awal. Ia
menuliskan: “keberadaan Abdullah bin Saba tidak ditemukan dalam naskah-naskah
sejarah tertua seperti Muhammad bin Ibn Ishaq bin Yasar (wafat tahun 151 H),
Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad ( wafat tahun 168 H), Ahmad bin Yahya al
Baladzuri (wafat tahun 279 H), Ibn Wadhih al Ya’qubi (wafat tahun 284 H), Abu
Bakar ahmad bin Abdullah al Aziz al Jauhari (wafat tahun 298 H), dan Mas’udi
(wafat tahun 344 H).
Sejarah seputar masa krisis kekhalifahan Utsman bin Affan
hingga terbunuhnya beliau yang ditulis para sejahrawan tertua tersebut tidak
disebut-sebut keterlibatan Abdullah bin Saba. Bahkan nama Abdullah bin Saba’
tidak ditemukan dalam naskah "Ansab al Asyraf" karya Baladzuri,
padahal kitab tersebut yang paling detail bercerita tentang krisis pada masa
kekhalifahan Utsman. Memang dalam kitab Baladzuri terdapat nama Ibnu Saba’,
tetapi dia merujuk pada nama Abdullah bin Wahab al Hamdani atau dikenal dengan
sebutan Abd Allah al Wahab al Saba’i pemimpin kelompok Khawarij, bukan merujuk
pada Ibn Sawda atau Abdullah bin Saba.
Berpijak dari hasil penelitian tersebut dapatlah kita
sebutkan bahwa eksistensi tentang Abdullah bin Saba baru muncul pada
naskah-naskah sejarah setelahnya, dengan kata lain muncul pada masa Ath Thabari
yang merujuk pada si pencipta tokohnya yang bernama Syaif Ibnu Umar at Tamimi
yang kemudian beredar secara luas dikutip oleh kalangan sejarahwan ahlu Sunnah,
termasuk sebagian sejarahwan Shiah yang terjebak dalam cerita fiksi itu.
Beberapa sejahrawan modern banyak pula yang telah melakukan
penelitian tentang Syi’ah (beserta asal-usulnya) dan kesimpulan mereka adalah
meragukan keberadaan figur fiktif bernama Abdullah bin Saba tersebut
diantaranya adalah :
1. Penelitian yang dilakukan oleh tim yang dibentuk lembaga
ahlu sunnah dari Damaskus yang bernama "Al majma’ al ‘Ilmi al
‘Arabi", telah membentuk tim dibawah pimpinan Profesor Muhammad Kurdi Ali
untuk melakukan penelitian tentang Syi’ah. Hasilnya penelitian telah
diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Khtath al Syam". Dalam kitab
tersebut dijelaskan tentang asal usul Syi’ah yang dilahirkan justru dari lisan
Rasulullah SAW, bukan dari Abdullah bin Saba. Dalam buku itu disebutkan pula
nama-nama sahabat Syi’ah awal.
2. Ulama dari Indonesia yang meneliti Syi’ah di antaranya
adalah Prof Dr H Abu Bakar Atjeh (beliau adalah seorang ahlu sunnah) yang
karyanya diterbitkan dengan judul "Syi’ah Rasionalisme dalam Islam"
yang dalam bukunya beliau mengutip pendapat Prof. Hamka yang menyebutkan bahwa
madzhab Syafi’i yang dianut mayoritas muslim Indonesia lebih dekat dengan
madzhab Syi’ah. Dalam bukunya tidak disebutkan peran Abdullah bin Saba’ dalam
pendirian Islam, malah beliau menunjukkan bahwa syi’ah dilahirkan oleh
Rasulullah S.A.W.
3. Ulama dari Indonesia lainya adalah H Abdullah bin Nuh
beliau (seorang ahlu sunnah), yang banyak melakukan penelitian tentag Syi’ah,
dan beliau menyebutkan bahwa penyebar Islam di Indonesia yang pertama adalah
orang-orang syi’ah
4. Dr Thoha Husein, ia menyatakan tentang keraguanya akan
keberadaan Abdullah bin Saba’ dan menganggapnya tokoh fiktif. Sebagaimaa
dituliskan dalam "Al Fitnatul Kubra jilid II", Thoha Husein meneliti
kitab-kitab sejarah awal Shiah dan tidak ditemukan nama Abdullah bin Saba.
5. Asyaikh Universitas Al azar Syaikh Mahmud Syaltut, beliau
bahkan mengeluarkan fatwa bolehnya berpegang dengan madzhab syi’ah.
Tentu saja mereka semua dikecam habis-habisan oleh para
pembenci ahlul bayt. Sebagian bahkan dikafirkan dan dihalalkan darahnya.
Kecurangan-kecurangan dalam pengutipan
Ditengarai para pembenci ahlul bayt (nawashib) telah
melakukan kecurangan-kecurangan terhadap karya-karya sejahrawan awal. Modusnya
adalah dengan melakukan perubahan ataupun pemalsuan terhadap redaksional dengan
dibelokan dari makna aslinya. Tindakan itu dimaksudkan untuk menunjukan kepada
khalayak awam bahwa dalam kitab-kitab sejarah paling awal yang ditulis
sejahrawan muslim terdapat figur Abdullah bin Saba’ dan itu membuktikan kepada
khalayak ramai, bahwa Abdullah binn Saba’ bukanlah tokoh fiktif. Salah satu
contohnya adalah sebagai berikut :
“Ahmad bin Ya’qub,…, Dia mengutip perkataan Sayyidina Utsman
ketika beliau marah kepada sahabat Ammar bin Yasir karena telah merahasiakan
wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad “celakalah Ibnu as-Sauda’ (Abdullah bin
Saba’) itu. Sungguh aku benar-benar mengetahuinya.”
Tindak pemalsuan di atas adalah dengan pemberian makna lain
dari redaksi yang sebenarnya, pada tulisan di atas (yang dipalsukan) kata dalam
kurung yang tertulis (Abdullah bin Saba’) tidak terdapat dalam kitab Tarikh
Ya’qubi, kata tersebut adalah tambahan dari si pengutip. Pihak pengutip sengaja
menghilangkan informasi sebelum dan sesudahnya yang menunjukkan bahwa Ibnu
Sa’uda yang dimaksud adalah Ammar bin Yassir, mari kami kutipkan secara utuh :
“ Ketika Ibnu Mas’ud datang ke Madinah dari Kuffah, dan
menyerahkan kunci ba’it al mal dengan sikap sedemikian rupa, lalu Utsman bin
Affan mengeluarkan perintah agar Ibn Mas’ud dihajar dan dikeluarkan dari
masjid. Karena tidak senang dengan perbuatan Utsman, maka Ali membawa Ibn
Mas’ud (yang terluka parah: tambahan blogger) ke rumah. Ibnu Mas’ud meninggal
dua tahun sebelum Utsman. Dalam Wasiatnya Ibnu Mas’ud minta supaya Ammar
mendo’akan dan menshalatkan jenazahnya, dan meminta supaya Usman tidak
mensholatkan jenazahnya. Miqdad (sebelum meninggal) juga bersikap demikian….
Utsman bin Affan marah kepada Ammar bin Yassir yang telah merahasiakan wafatnya
Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad bin Amr, ia berkata kepada Ammar: “Celakalah
engkau Ibnu as Sauda, sungguh aku benar-benar mengetahuinya…". Ammar bin
Yassir oleh kaum Qurasy memang digelari "Ibnu Sawda" yang artinya
sebagai putra wanita hitam dan "Al Abd" yang artinya si budak”.
Dengan demikian jelas bahwa si pengutip bermaksud
membelokkan arti dari Ibnu Sawda diatas. Sebagaimana telah kami sampaikan
diatas melalui penelitian bahwa Abdullah bin Saba’ tidak diketemukan dalam
kitab-kitab sejahrawan Islam paling awal.
Sebetulnya kalau kita jeli melihat kalimat yang dipalsukan
tersebut, bahwa sebetulnya yang disebut Ibnu Sa’uda adalah Ammar bin Yasir,
perhatikan: di atas diceritakan Khalifah Utsman bin Affan marah kepada Ammar
bin Yassir karena telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad
padahal Khalifah Utsman tahu, kemarahan khalifah diujudkan dengan mengatakan
“celakalah Ibnu as Sauda” tentu saja kemarahan itu ditujukan kepada Ammar
karena di situ Khalifah sedang berbicara dengan Ammar. Biasanya orang-orang
nawashib sangat lihai dalam memotong dan memalsukan informasi. Tapi
sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat jatuh juga. Dan karena terlalu
bersemangat untuk memberikan tuduhan bahwa Syi’ah adalah produk Abdullah bin
Saba, akhirnya mereka terperangkap dalam tindak pemalsuannya sendiri.
Bentuk pembiasan informasi lain adalah terdapatnya nama Ibnu
Saba yang tertulis dalam kitab Ansab al Asyraf karya Baladzuri. Dalam kitab
tersebut tertulis “…Dan Ibnu Saba memiliki satu naskah dari surat tersebut lalu
ia mengubah-ubahnya”. Jika informasi ini dipotong sampai di sini saja maka
dampaknya adalah bahwa bukti Abdullah bin Saba’ tertulis di kitab sejarah Islam
awal adalah benar. Tetapi kalimat tersebut masih memiliki keterangan, bahwa
yang dimaksud al Baladzuri dengan Ibnu Saba’ di situ adalah ‘Abd Allah Ibn
Wahab al Saba’i atau dikenal juga dengan Abdullah bin Wahab al Hamdani, seorang
pemimpin utama Khawarij dari suku Sabaiyah atau Qathan. Penyematan nama
saba’iyah ini disebabkan oleh gesekan antara suku Adnan dan Qathan, sehingga
orang-orang Adnani memanggil orang-orang dari suku Qathan dengan sebutan sabaiyah.
Dengan demikian pemerkosaan pada kedua kitab awal yang
dipaksa untuk membuktikan adanya tokoh Abdullah bin Saba sebetulnya adalah
tindakan kejahatan. Kedua kitab tersebut memang berbicara secara detail
berkenaan krisis di masa khalifah Utsman sehingga beliau wafat, namun tidak
diketemukan nama Abdullah bin Saba’ sebagimana yang dituduhkan sebagai pendiri
Madzab syi’ah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar