Keluarga Rothschild adalah nama suatu keluarga yang sangat identic dengan
bangsa Yahudi terutama dalam hal sejarah konspirasi dunia. Beberapa revolusi
dunia dan bahkan Perang Dunia 1 dan 2 juga diduga kuat atas pengaruh kekuatan
keluarga ini.
Mempelajari fakta dan sejarah keluarga Rothschild cukup menarik
terutama bagi para penggemar teori konspirasi.
Berikut saya kutip satu tulisan
bagus dari cahyono-adi.blogspot.co.id tentang sejarah singkat Keluarga Rothschild.
Keluarga Rothschild, boleh jadi saat ini bukan keluarga paling
berpengaruh di antara orang-orang Yahudi. Namun sangat boleh jadi juga mereka
masih memegang kekuasaan yang sangat besar sehingga mampu menentukan nasib
bangsa-bangsa di dunia ini, mengingat selama ini mereka bekerja dengan penuh
kerahasiaan menyembunyikan kekuatan sesungguhnya. Keluarga Rothschild, tidak
ada tandingannya selama 2,5 abad terakhir sebagai keluarga atau dinasti atau
wangsa penguasa dunia. Namanya identik dengan kekuasaan, kekayaan, kemewahan,
namun juga kelicikan.
Benjamin Desraeli, Perdana Menteri Inggris abad 19 keturunan Yahudi
sangat tepat dalam menggambarkan kekuasaan keluarga itu dalam novelnya yang
terkenal, Coningsby, dengan kata-kata: "penguasa pasar uang dunia, dan
tentu saja juga menjadi penguasa segalanya. Secara efektif mengendalikan Italia
Selatan seperti pion. Raja-raja dan bangsawan-bangsawan di semua negara
menghormati kata-katanya dan dibimbing olehnya.”
Mempelajari jatidiri bangsa Yahudi tidak akan lengkap tanpa mempelajari
sejarah keluarga ini. Keluarga ini didirikan oleh Mayer Amschel Bauer (lahir
tahun 1743) yang memulai usahanya sebagai pedagang emas dan rentenir di kota
kelahirannya, Frankfurt, meneruskan usaha bapaknya.
Saat itu bunga uang masih
dianggap haram oleh sebagian besar masyarakat Eropa dan usaha perbankan dan
keuangan hanya dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Ayahnya, seorang Yahudi yang
taat, telah memasang tanda berupa tameng berwarna merah (rothschild) di depan
tokonya sebagai lambang semangat revolusioner masyarakat Yahudi Eropa Timur
(komunisme mengadopsinya sebagai warna dasar bendera mereka, pen.).
Meneruskan
semangat ayahnya, Mayer, yang telah memiliki pengetahuan perdagangan uang dari
perusahaan milik keluarga Yahudi Oppenheimer of Hannover, mengganti nama
keluarganya menjadi Rothschild. Jadilah ia dikenal dengan nama lengkap Mayer
Amschel Rothschild.
Keberuntungan besar yang dimilikinya dimulai tahun 1760 saat Mayer
Rothschild berkenalan dengan Jendral von Estorff, seorang bawahan dari penguasa
Jerman saat itu, Pangeran Williams of Hanau. Melalui sang jendral, Rothschild
akhirnya bertemu sang pangeran dengan membawa medali-medali dan koin-koin emas
langka kesukaan sang pangeran. Segera ia menjadi teman dekat sang pangeran, dan
ia benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Selain jaminan keamaan dari sang
pangeran, ia menjadi populer di kalangan bangsawan Jerman, yang sebagaimana
semua bangsawan Eropa saat itu, ternina-bobokkan oleh kemewahan dan kekuasaan.
Tahun 1770 Rothschild menikahi Gutele Schnaper dan mereka dikaruniai 10
anak, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kelima anak laki-laki tersebut, Amschel,
Salomon, Nathan, Kalmann (Karl) and Jacob (James) adalah generasi pertama
penerus keluarga Rothschild.
Setelah cukup dewasa, oleh orang tuanya, mereka
dikirimkan ke lima pusat kekuassaan di Eropa saat itu: Amschel di Berlin;
Salomon di Vienna; Nathan di London; Jacob (James) di Paris dan Kalmann (Karl)
di Naples. Pada akhir abad 18 Rothschild mendapatkan rejeki nomplok. Pangeran
Williams yang kalah perang melawan Napoleon, melarikan diri ke Denmark
meninggalkan harta senilai $3.000.000 (nilai yang sangat besar saat itu) kepada
Rothschild yang dia harapkan dapat mengamankannya. Uang tersebut adalah uang
upahan tentara sang pangeran yang tidak dibayarkannya. Legenda menyebutkan
harta tersebut disembunyikan Rothschild dalam drum minuman untuk mengelabuhi
pasukan Napoleon, namun fakta sebenarnya adalah harta tersebut digunakan
Rothschild sebagaimana biasa ia melakukan bisnisnya.
Rothschild memutuskan menginvestasikan “uang haram” tersebut ke Inggris
dimana putra ketiganya yang juga putranya yang paling genius, Nathan, membuka
usaha bank. Oleh Nathan, uang tersebut digunakan untuk memasok emas ke
perusahaan imperialis East India Company, investasi yang sangat menguntungkan
seiring perkembangan kolonialisme Inggris di India.
Pada tahun 1812 Mayer Rothschild meninggal dunia. Menjelang kematiannya
ia meninggalkan pesan-pesan penting kepada anak-anaknya. Di antara pesan itu
adalah:
1. Semua posisi kunci di perusahaan keluarga harus dipegang oleh
anggota keluarga sendiri dan hanya anggota keluarga laki-laki boleh terlibat
dalam perusahaan (sesuai dengan ajaran Taurat).
2. Anggota keluarga tertua menjadi pimpinan perusahaan, kecuali
sebagian besar keluarga menghendaki lain. (Karena alasan ini Nathan yang
memiliki kejeniusan lebih dibandingkan saudara-saudaranya, ditunjuk sebagai
pimpinan keluarga).
3. Anggota keluarga harus menikah dengan sesama keluarga sendiri,
keponakan atau sepupu, demi menjaga harta keluarga tidak jatuh ke pihak lain.
4. Dilarang keras membuka rahasia kekayaan keluarga, termasuk terhadap
pemerintah. Setiap pelanggaran akan mendapat sangsi keras, termasuk dikeluarkan
dari anggota keluarga.
Dengan jaringan perbankan yang dibangun Keluarga Rothschild, mereka
mampu menciptakan sistem pembayaran baru, yaitu sistem jaringan internasional
debit kredit menggantikan pembayaran melalui pengiriman emas. Kontribusi
terbesar keluarga Rochschild adalah “mengambangkan” pinjaman/hutang luar negeri
dimana memungkinkan ia melakukan semua pembayaran luar negeri dengan mata uang
kertas poundsterling.
Seiring dengan perkembangan jaringan usahanya, Rothschild
juga mengembangkan jaringan komunikasi dan transportasi ke seluruh Eropa
sehingga memungkinkan ia mendapatkan semua informasi penting lebih cepat.
Dengan kata lain ia berhasil mengembangkan jaringan inteligen yang lebih besar
dan lebih canggih daripada dinas-dinas inteligen negara-negara Eropa saat itu.
Dan untuk itu ia mendapatkan keuntungan yang tak terhingga.
Dalam masa dimana Eropa dilanda peperangan terus-menerus antara
Perancis yang dipimpin Jendral Napoleon, melawan negara-negara kerajaan lainnya
yang dipimpin Inggris, Rothschild memainkan peranannya dengan sangat cerdik,
namun juga licik. Ia tidak hanya membantu Inggris, negeri yang telah melindungi
dan memberikannya gelar kebangsawanan, namun juga membantu Napoleon. Maka
tatkala Inggris dan Perancis saling melakukan blokade laut, tidak ada satu
kapalpun yang boleh melayari jalur laut antara kedua negara, kecuali
kapal-kapal milik Rothschild tentunya.
Ada satu cerita yang sangat terkenal dimana Nathan Rothschild
menggunakan kekuatan jaringan informasinya untuk keuntungan bisnisnya. Dalam
Perang Waterloo yang menjadi penentu nasib bangsa-bangsa Eropa (juga dunia
karena sebagian besar dunia saat itu dikuasai negara-negara Eropa) dimana
pasukan koalisi yang dipimpin Jendral Wellington dari Inggris berhadapan dengan
pasukan Napoleon, Rothschild dengan sangat serius menyiapkan mata-matanya untuk
mengetahui hasil peperangan tersebut lebih cepat dari siapapun.
| Perang Waterloo 1815 |
Saat kesudahan
peperangan sudah bisa ditebak dimana Napoleon dipastikan kalah, maka pada
tanggal 15 Juni 1815, mata-mata Rothschild segera menyampaikan informasi
berharga tersebut kepada tuannya. Rothschild pun bergegas pergi ke gedung
London Stock Exchange. Sembari berdiri di dekat “pilar Rothschild” yang
terkenal seperti biasanya, ia memerintahkan agen-agennya menjual semua saham
yang dimiliki sehingga menimbulkan kepanikan pasar.
Para pelaku pasar mengira Rothchild sudah mengetahui hasil peperangan
dengan kemenangan di pihak Napoleon. Takut nilai saham mereka jatuh, mereka pun
ikut beramai-ramai menjual sahamnya hingga harga seluruh saham jatuh ke titik
yang sangat rendah. Saat itulah Rothschild memerintahkan agen-agennya untuk
memborong seluruh saham yang ada. Beberapa jam kemudian berita resmi kemenangan
Inggris pun sampai di London. Harga sahampun melambung naik, namun semuanya
sudah menjadi milik Rothschild. Dalam sehari kekayaan Rothcschild naik berpuluh
kali lipat sementara yang lainnya jatuh miskin.
Pada tahun 1817, menyusul kekalahan dalam Perang Waterloo, pemerintah
Perancis berusaha mendapatkan pinjaman uang untuk membiayai belanja pemerintah.
Rothschild pun menawarkan bantuan, namun mengetahui kelicikan Rothschild,
mereka lebih suka memilih bank lain: Ouvrad dari Perancis dan Baring dari
Inggris.
Setahun kemudian pemerintah Perancis kembali mengeluarkan obligasi
yang dijualnya kepada Ouvrad dan Baring dan kembali membiarkan Rothschild
menggigit jari. Rothschild memang telah menjadi salah satu orang terkaya di
Eropa. Namun bangsawan Perancis yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai etika
tetap saja memandang Rothschild sebagai orang yang tidak terhormat karena
kelicikannya. Itulah sebabnya mereka menjauhi Rothschild.
Namun bukan Rothschild namanya kalau tidak melakukan langkah licik
pembalasan.
Pada tanggal 5 November 1818 suatu kejanggalan terjadi. Obligasi dan
surat-surat berharga pemerintah Perancis yang selama setahun mengalami kenaikan
harga yang stabil, mulai berjatuhan. Semakin lama kejatuhan nilai itu semakin
besar. Pemerintah Perancis yang dipimpin Louis XVIII pun dilanda kepanikan.
Kecurigaan pun muncul di kalangan elit pemerintahan Perancis terhadap
Rothschild. Namun rasa kebencian mereka lebih kecil dibanding ketakutan bahwa
Rothschild akan menjatuhkan kekuasaan mereka. Keadaan pun berbalik, pemerintah
Perancis yang tadinya memandang rendah Rothschild, berbalik rela menjadi hamba
demi menyelamatkan kekuasaan mereka.
Selama bulan Oktober 1818, agen-agen Rothschild dengan menggunakan
sumber dana yang tak terbatas, memborong surat-surat berharga kerajaan
Perancis. Kemudian pada tanggal 5 November mereka mulai melemparnya ke pasaran
dengan harga murah. Khawatir harganya terus anjlok, para investor turut
beramai-ramai menjual surat-surat berharga mereka, khususnya yang diterbitkan
oleh pemerintah Perancis.
Kudeta yang dilakukan Rothschild di Inggris tahun 1815 dan Perancis
tahun 1818 tidak berhenti sampai di situ. Selanjutnya mereka melirik ke
Amerika, negeri baru yang menjanjikan.
Sumber:
http://cahyono-adi.blogspot.co.id/.
https://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga_Rothschild





Tidak ada komentar:
Posting Komentar