Laman

Sabtu, 16 September 2017

Fakta Sejarah Protokol Zion

Pada awal abad 19, di Rusia terjadi aksi pembantaian terhadap orang-orang yahudi atas perintah pemimpin Rusia saat itu raja Tsar Nicholas II yang seperti pendahulunya Tsar Alexander II melakukan program pembersihan Yahudi. Aksi itu dilakukan secara massif hingga pernah dalam satu aksi membunuh sekitar 10.000 orang Yahudi dalam sehari.

Aksi pembersihan itu adalah reaksi atas terbitnya sebuah buku berjudul The Great Within The Small karangan Profesor Nilus. Dalam buku itu terdapat dokumen rahasia “Protocols of The Elders of Zion” tentang rencana besar dan rahasia bangsa Yahudi untuk menguasai Eropa dan dunia dengan segala cara. Kebencian massal orang-orang Rusia terhadap Yahudi pun tak terbendung.

Tsar Nicholas II


Namun Yahudi berhasil melancarkan serangan balik. Melalui berbagai propaganda mereka melancarkan berbagai aksi kerusuhan yang puncaknya adalah Revolusi Bolshevik tahun 1917 yang berhasil menyingkirkan Tsar dan mendudukkan regim komunis sebagai penguasa Rusia. Sebagai balasan atas program pembasmian Yahudi yang dilancarkannya, Tsar Nicholas II dan para pendukungnya dibunuh secara keji. 
Lenin dalam Revolusi Bolshevik

Selanjutnya regim komunis yang berkuasa mengeluarkan peraturan yang sangat keras: barang siapa menyimpan atau mempublikasikan Protocols akan langsung ditembak di tempat tanpa melalui proses pengadilan. Ini saja sudah menunjukkan keseriusan Protocols. Tidak mengherankan kalau Hitler memandang komunisme sebagai pelindung kepentingan Yahudi yang harus dihancurkan sebagaimana orang-orang Yahudi. 

"Semua ini hanyalah jalan menuju Revolusi Dunia"
Protocols sudah diterjemahkan di beberapa negara seperti Inggris dan Jerman, namun setiap edisi yang sempat terbit selalu habis diborong oleh orang-orang Yahudi yang khawatir masyarakat dunia akan sadar dan melawan pada saat Yahudi belum benar-benar menguasai dunia. Mengenai beberapa kopi Protocols yang sempat beredar, media massa seluruh dunia yang didominasi kepentingan Yahudi selalu mendeskreditkannya sebagai sebuah kepalsuan. Namun bukti-bukti menunjukkan sebaliknya, dan Protocols terus menjadi bahan kajian berbagai bangsa di dunia hingga sekarang. 

Tidak kurang dari public figure terkenal seperti Henry Ford (raja mobil Amerika) memberikan komentarnya tentang Protocols yang dimuat dalam buku Prof. Nilus: 
"The only statement I care to make about the Protocols is that they fit in with what is going on. They are sixteen years old, and they have fitted the world situation up to this time. They fit it now.” (Satu satunya komentar saya tentang Protocols adalah sesuai benar dengan kejadian-kejadian yang telah dan tengah berlangsung. Protocols sudah berumur 17 tahun (saat Henry Ford membuat pernyataan; pen) dan semua kejadian yang terjadi sesuai dengan apa yang tertulis di Protocols) " 

Kebencian Adlof Hitler kepada Yahudi hampir dapat dipastikan juga karena pengetahuannya tentang Protocol Zion.

Penulis ingin menunjukkan beberapa bukti yang menunjukkan betapa Protocols adalah sesuatu yang sangat nyata dan sejalan dengan sejarah. Kapten A.H.M. Ramsay dalam catatannya yang terkenal The Nameless War mengungkapkan bahwa dirinya menerima sekumpulan dokumen lama dari seorang sahabatnya yang berasal dari Synagogue Mulheim yang berisi korespondensi rahasia antara pemimpin parlemen Inggris Oliver Cromwell dan Menlu E Pratt, tertanggal 16 Juni 1647. 

Saat itu Inggris baru saja dilanda perang saudara hebat antara para pendukung raja Charles dan pendukung parlemen dimana raja Charles kalah dan tengah menjalani tahanan. Korespondensi tersebut menunjukkan bahwa Cromwell dan Pratt tengah berupaya mendapatkan dukungan dana dari orang-orang Yahudi, dengan balasan orang-orang Yahudi diakui sebagai warga Inggris. Namun upaya itu terhambat oleh penolakan Charles yang secara de jure masih menjabat sebagai raja. Maka keduanya sepakat untuk membunuh Charles melalui sebuah rekayasa. 

Sejarah telah menunjukkan rekayasa tersebut berjalan mulus: membiarkan Charles melarikan diri, menangkapnya di pelarian, mengadilinya dengan tuduhan pengkhianatan, menghukumnya dengan memancung kepalanya, kemudian membiarkan Cromwell menjadi penguasa Inggris dengan menanggung hutang kepada orang-orang Yahudi sehingga harus membagi kekuasaan dengan mereka. Dan dua abad kemudian, tepatnya tahun 1874, Inggris sudah dipimpin oleh perdana menteri yang berdarah Yahudi, Benjamin Desraeli. Semuanya itu paralel dengan apa yang ada dalam Protocols.

Isaac Disraeli, bapak dari Benjamin Desraeli, dalam bukunya “Life of Charles I” tahun 1851 dengan gamblang mengatakan: “Ingat dengan Revolusi Perancis, rahasia persiapannya sangat kita pahami karena sebenarnya itu adalah hasil kerja tangan kita.”

Tuduhan bahwa Protocols adalah bohong dan palsu juga dipatahkan dengan fakta bahwa dokumen yang baru dipublikasikan oleh Profesor Nylus pada tahun 1901 itu mampu memprediksi beberapa kejadian besar yang terjadi kemudian seperti Revolusi Bolshevik, Perang Dunia I dan II, Depresi Besar, runtuhnya negara-negara kerajaan di Eropa, pendirian negara Israel, Perang Dingin dan sebagainya.

Karena bersifat rahasia dan tidak ada orang atau pun organisasi yang berani mengkonfirmasi kebenarannya, Protocols tetap dianggap sebagai sebuah misteri oleh kebanyakan orang. Beberapa informasi yang berhasil dikuak menunjukkan bahwa Protocols adalah undang-undang dasar bangsa Yahudi dalam mewujudkan ambisinya menjadi penguasa dunia sebagai implementasi keyakinan mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. 

Protocols dibuat dalam pertemuan rahasia orang-orang Yahudi terkemuka (learned elders) tahun 1897 dalam KongresZionisme I di Basle, Swiss. 
Cover dari Protokol Resmi Kongres Zionis Pertama Basel 1897
Delegasi Kongres Zionis Pertama Basel 1897

Namun para ahli yakin bahwa kaum Yahudi telah mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia secara rutin jauh sebelum itu, dengan tujuan yang sama: MENGUASAI DUNIA. Sumber: cahyono-adi.blogspot.co.id
Gambar: Google & Wikipedia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar